Do you know yanuar?Become his contact | Who is on Multiply?Find your friends | Want to learn more?Take the Tour | Already a Member?Sign In |
Islam Berkontribusi Besar pada Peradaban
SEJARAH mencatat, Islam pernah mencapai masa kejayaan. Tak ada yang bisa menampik, bahkan dunia Barat yang merasa pinunjul sekalipun, atas kontribusi besar dunia Islam pada peradaban dunia. Tapi pertanyaannya, mengapa sekarang Islam seperti tersalip oleh dunia Barat? Mengapa umat Islam kebanyakan berada pada level semenjana, satu-dua tingkat di bawah Amerika Serikat atau Eropa yang terlihat begitu maju dan mengilap? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh Sekjen Menko Kesra, Prof Dr HA Qodri A Azizy MA, ketika menyampaikan tausiyah seusai tarawih keluarga besar Suara Merdeka Group, semalam. Kegiatan itu dilakukan di kediaman Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir H Budi Santoso, Jl Sultan Agung 62, Semarang. ''Ketika Islam sudah mencapai masa kejayaan, Eropa masih berada pada abad kegelapan. Maka, ketika itu banyak tokoh Eropa yang belajar di pusat-pusat peradaban Islam,'' kata Qodri yang mantan rektor IAIN Walisongo tersebut. Para peserta tarawih itu pun manggut-manggut. Tak terkecuali, Budi Santoso yang menjadi sahibul bait, Managing Director Suara Merdeka Group Kukrit SW, Pemred Suara Merdeka Sasongko Tedjo, dan juga Pemred Koran Sore Wawasan Sriyanto Saputro. Kesalahan Penafsiran Tapi mengapa sekarang ''tenggelam''? Menurut Qodri, berpindahnya manuskrip-manuskrip yang berisi karya-karya pemikir Islam ke Amerika dan Eropa menjadi salah satu penyebabnya. Oleh Barat, karya-karya besar itu diterjemahkan, dipelajari, dan kemudian ditransfer kembali ke dunia Islam. Tentu saja, sudah ada penyuntingan di sana-sini, sesuai kepentingan mereka. Penyebab lainnya, ada kesalahan penafsiran di kalangan masyarakat Islam terhadap Alquran. Dia memberi contoh, penafsiran QS Al An'am 164 yang berbunyi ''... wala taziru waziratun wizra ukhra (... dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain)'' sebatas perdebatan boleh tidaknya tahlil. '' Ayat itu, bisa dimaknai sebagai arti penting tanggung jawab atau responsibility dalam Islam. Kekeliruan penafsiran semacam itulah yang justru bikin Islam tidak maju-maju,'' tuturnya. (Achiar M Permana-60) disalin dari : http://www.suaramerdeka.com/
Ramadan dalam Alquran
RAMADAN terpilih sebagai bulan puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman (QS 2: 183, 185). ''(Beberapa hari yang ditentukan itu) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Karena itu barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu....'' Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah puasa Ramadan, misalnya untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya. Uraian seperti itu tentu ada benarnya, walaupun sulit dirasakan oleh setiap muslim yang berpuasa. Karena lapar, haus dan lain-lainnya akibat berpuasa tidak secara otomatis mengingatkan kepada penderitaan orang lain. Malah mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan makanan dan minuman yang bervariasi pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka puasa pada malam harinya. Begitu pula tidak akan mudah dirasakan oleh orang berpuasa bahwa puasa itu akan membantu kesehatan. Maka orang berimanlah akan patuh melaksanakan perintah berpuasa sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan agar tenteram hidup di dunia dan bahagia dan alam baqa. Bulan Ramadan sebagai salah satu jenis puasa wajib merupakan puasa pokok yang paling utama dibandingkan dengan puasa-puasa wajib lainnya. Puasa kafarat adalah puasa wajib karena pelanggaran suatu tata aturan. Puasa nadzar juga puasa wajib untuk membayar nadzar yang telah diikrarkan berpuasa oleh seseorang hamba Allah. Demikian pula, puasa qadha merupakan pembayaran (ganti) hari-hari puasa Ramadan yang tidak dikerjakan karena halangan. Ramadan dipilih Allah SWT sebagai bulan diwajibkan puasa, karena bulan itu lebih baik atau istimewa dan lebih tinggi statusnya dari bulan-bulan qamariyah lainnya. Bila diperhatikan, Ramadan adalah bulan yang paling panas karena terik matahari dan kurang layak bila dijadikan bulan untuk melaksanakan puasa sebulan penuh. Ramadan dipilih Allah SWT, karena terdapat banyak peristiwa dan kejadian-kejadian penting yang berpengaruh besar terhadap pembinaan kehidupan umat manusia. Wahyu Allah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Melalui Malaikat Jibril pada bulan Ramadan (QS Al Baqarah: 185). Wahyu pertama ini merupakan titik tolak yang mendasar dalam menggerakkan perkembangan rohaniyah terbesar serta melahirkan suatu umat baru (umat Islam). Alquranlah yang telah mengangkat kembali derajat manusia dari lembah kenistaan dan kejumudan dengan anjurannya untuk menggunakan akal pikiran dalam menghadapi dan mengamati alam semesta ini. Alquran mengumandangkan ajaran tauhid dan memerintahkan manusia untuk melepaskan diri dari belenggu berhala atau sesembahan lainnya. Alquran juga mencantumkan secara jelas asas persamaan status yang tidak membedakan manusia dalam derajat, pangkat dan kelas tertentu. Lailatul Qadar sebagai suatu malam yang penuh dengan kemuliaan dan keutamaan, jatuhnya pada bulan Ramadan. Dalam beberapa hadis dijelaskan bahwa Lailatul Qadar itu terdapat pada salah satu malam dari sepuluh terakhir bulan Ramadan. Lailatul Qadar dengan keutamaannya lebih baik dari seribu bulan, merupakan tumpuan keinginan bagi umat Islam untuk dapat menikmatinya. Firman Allah dalam surat Al-Qadar 1-3 yang artinya: ''Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu kemuliaan itu, lebih baik dari seribu bulan''. Bulan Ramadan merupakan pula bulan kemenangan Rasulullah SAW beserta pengikutnya terhadap kaum kafir Quraisy, seperti: Pertama, Kemenangan dalam Perang Badar yang dikenal sebagai Hari Furqan atau hari pemisah antara yang benar (Islam) dan yang batil (kafir Quraisy) seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Anfal 41, yang artinya: ''Dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari furqan yaitu di hari bertemunya dua pasukan....'' Hari furqan tersebut jatuhnya pada 17 Ramadan (Jumat) tahun kedua Hijriah. Kedua, jatuhnya kota Makkah dari tangan kafir Quraisy kepada umat Islam juga pada bulan Ramadan.(41) -Prof Dr Muchoyyar HS MA, adalah guru besar IAIN Walisongo Semarang. disalin dari : http://www.suaramerdeka.com/
Allah Memberi Karunia di Dunia ini bagi Orang-orang yang Menginginkannya, Tetapi di Akhirat Mereka akan Menderita Kerugian Orang-orang yang tidak memiliki ketakwaan kepada Allah dalam hatinya, dan imannya sangat lemah terhadap kehidupan akhirat, hanyalah menginginkan keduniaan. Mereka meminta kekayaan, harta benda, dan kedudukan hanyalah untuk kehidupan di dunia ini. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang hanya menginginkan keduniaan tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, mereka berdoa memohon dunia dan akhirat karena mereka percaya bahwa kehidupan di akhirat sama pastinya dan sama dekatnya dengan kehidupan dunia ini. Tentang masalah ini, Allah menyatakan sebagai berikut: “Di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Q.s. al-Baqarah: 200-2). Orang-orang yang beriman juga berdoa memohon kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kebahagiaan. Akan tetapi, semua doa mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperoleh kebaikan bagi agamanya. Mereka memohon kekayaan misalnya, adalah untuk digunakan di jalan Allah. Berkenaan dengan masalah ini, Allah memberikan contoh tentang Nabi Sulaiman di dalam al-Qur’an. Jauh dari keinginan untuk memperoleh dunia, doa Nabi Sulaiman untuk meminta kekayaan adalah demi tujuan mulia untuk digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar dirinya sibuk berdzikir kepada Allah. Kata-kata Nabi Sulaiman sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an menunjukkan niatnya yang ikhlas: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik karena ingat kepada Tuhanku.” (Q.s. Shad: 32). Maka Allah mengabulkan doa Nabi Sulaiman a.s. tersebut dengan mengaruniakan kepadanya kekayaan yang sangat banyak di dunia dan ia akan memperoleh pahala di akhirat. Dalam pada itu, Allah juga mengabulkan keinginan orang-orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia, namun azab yang pedih menunggu mereka di akhirat. Keuntungan yang telah mereka peroleh di dunia ini tidak akan mereka peroleh lagi di akhirat kelak. Kenyataan yang sangat penting ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan memberikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya bagian sedikit pun di akhirat. (Q.s. asy-Syura: 20). “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.s. al-Isra’: 18). diambil dari karya : HARUN YAHYA "Beberapa Rahasia Al Qur'an"
ALLAH MENGABULKAN DOA SETIAP ORANG Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, telah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Dia dekat dengan manusia dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Adapun salah satu ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186). Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, Allah itu dekat kepada setiap orang. Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, pikiran, kata-kata yang diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati setiap orang. Dengan demikian, Allah Mendengar dan Mengetahui setiap orang yang berpaling kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya. Inilah karunia Allah kepada manusia dan sebagai wujud dari kasih-sayang-Nya, rahmat-Nya, dan kekuasaan-Nya yang tiada batas. Allah memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang tiada batas. Dialah Pemilik segala sesuatu di seluruh alam semesta. Setiap makhluk, setiap benda, dari orang-orang yang tampaknya paling kuat hingga orang-orang yang sangat kaya, dari binatang-binatang yang sangat besar hingga yang sangat kecil yang mendiami bumi, semuanya milik Allah dan semuanya berada dalam kehendak-Nya dan pegaturan-Nya yang mutlak. Seseorang yang beriman terhadap kebenaran ini dapat berdoa kepada Allah mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya. Misalnya, seseorang yang mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam pengobatan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kesehatan, lalu ia pun berdoa kepada-Nya memohon kesembuhan. Demikian pula, orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdoa kepada Allah agar terbebas dari ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdoa kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga bersama-sama orang-orang beriman lainnya, agar lebih meyakini surga, neraka, Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan sebagainya. Inilah yang telah ditekankan Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari kejahatan musuh dan agar rezekimu bertambah?” Mereka berkata, “Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Serulah Tuhanmu siang dan malam, karena ‘doa’ itu merupakan senjata bagi orang yang beriman.”1 Namun demikian, terdapat rahasia lain di balik apa yang diungkapkan dalam al-Qur’an yang perlu kita bicarakan dalam masalah ini. Sebagaimana Allah telah menyatakan dalam ayat: “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu tergesa-gesa.” (Q.s. al-Isra’:11). Tidak setiap doa yang dipanjatkan oleh manusia itu bermanfaat. Misalnya seseorang memohon kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak untuk anak-anaknya kelak. Akan tetapi Allah tidak melihat kebaikan di dalam doanya itu. Yakni, kekayaan yang banyak itu justru dapat memalingkan anak-anak tersebut dari Allah. Dalam hal ini, Allah mendengar doa orang tersebut, menerimanya sebagai amal ibadah, dan mengabulkannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Sebagai contoh lainnya, seseorang berdoa agar tidak terlambat dalam memenuhi perjanjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika ia sampai di tujuan setelah waktu yang ditentukan, karena ia dapat bertemu dengan seseorang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini, dan Dia mengabulkan doa bukan berdasarkan apa yang dipikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang terbaik. Yakni, Allah mendengar doa orang itu, tetapi jika Dia melihat tidak ada kebaikan dalam doanya itu, Dia memberikan apa yang terbaik bagi orang itu. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang sangat penting. Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar doa mereka. Sesungguhnya hal ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena “Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri.” (Q.s. Qaf: 16). Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpinya. Allah adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya. Doa, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui doa, Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya. Allah menyatakan pentingnya doa dalam sebuah ayat: “Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak karena doamu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan menimpamu’.” (Q.s. al-Furqan: 77) masih dari naskah : Beberapa Rahasia Qur'an karya Harun Yahya
Banyak orang yang tidak beriman kepada al-Qur’an sekalipun mereka mengaku sebagai orang yang beriman. Mereka menghabiskan hidup mereka dengan berpegang pada khayalan, dan kehidupan mereka menyalahi al-Qur’an, bahkan mereka menolak al-Qur’an sebagai pembimbing mereka. Padahal, hanya al-Qur’an yang memberikan pengetahuan yang benar dalam masa kehidupan ini kepada setiap orang, dan al-Qur’an menjelaskan rahasia-rahasia penciptaan Allah dengan penjelasan paling benar dan paling murni. Informasi apa pun yang tidak berdasarkan pada al-Qur’an adalah informasi yang tidak benar, dengan demikian informasi tersebut merupakan tipuan dan khayalan. Dengan demikian, orang-orang yang tidak berpegang pada al-Qur’an hidupnya dalam keadaan mengkhayal. Di akhirat, mereka akan dilaknat selama-lamanya. Dalam al-Qur’an, juga dalam shalat, perintah, larangan, dan akhlak yang baik, Allah menjelaskan berbagai rahasia kepada umat manusia. Sesungguhnya semuanya ini merupakan rahasia penting, dan mata yang mau memperhatikan dapat menyaksikan rahasia-rahasia ini di dalam hidupnya. Tidak ada sumber lain selain al-Qur’an yang dapat menjelaskan rahasia-rahasia ini. Al-Qur’an adalah sumber istimewa bagi rahasia-rahasia ini, sehingga siapa pun orangnya, betapapun ia orang yang cerdas dan melek huruf tidak akan pernah menemukan rahasia-rahasia ini di tempat lain. Jika sebagian orang tidak dapat memahami pesan-pesan yang tersembunyi dalam al-Qur’an, sedangkan orang lain dapat memahaminya, ini merupakan rahasia lain yang diciptakan oleh Allah. Orang-orang yang tidak mengkaji rahasia-rahasia yang diwahyukan dalam al-Qur’an hidup dalam keadaan menderita dan berada dalam kesulitan. Ironisnya, mereka tidak pernah mengetahui penyebab penderitaan mereka. Dalam pada itu, orang-orang yang mempelajari rahasia-rahasia dalam al-Qur’an menjalani kehidupannya dengan mudah dan gembira. Sebabnya adalah karena al-Qur’an itu jelas, mudah, dan cukup sederhana untuk dipahami oleh setiap orang. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan sebagai berikut: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (Q.s. an-Nisa’: 174-75). Namun demikian, kebanyakan manusia, meskipun mereka sanggup memecahkan masalah yang sangat sulit, memiliki pemahaman dan mampu mempraktikkan filsafat yang sangat membingungkan, ternyata tidak mampu memahami hal-hal yang jelas dan sederhana yang terdapat dalam al-Qur’an. Sebagaimana tetah dijelaskan dalam buku ini, persoalan ini merupakan rahasia yang penting. Di samping tidak mampu memahami sifat dunia yang sementara, hari demi hari orang-orang seperti ini semakin dekat kepada kematian yang tak dapat dielakkan. Rahasia-rahasia dalam al-Qur’an merupakan rahmat bagi orang beriman, dan di sisi lain, al-Qur’an memberikan ancaman bagi orang-orang kafir, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Allah menjelaskan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut: “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu hanyalah menambah kerugian bagi orang-orang yang zalim.” (Q.s. al-Isra’: 82). naskah ini saya salin dari : Buku "Beberapa Rahasia Qur'an" karya Harun Yahya | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||