Angkutan Massal Mulai Beroperasi 2009 Semarang, CyberNews. Kebutuhan terhadap angkutan umum massal jenis bus (bus rapid transportation/BRT) di Kota Semarang dinilai sudah mendesak. Ditargetkan awal 2009, angkutan massal itu sudah mulai beroperasi secara bertahap.
Pakar transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno mengatakan, penataan tata ruang kota harus turut menyertakan perencanaan tranportasi massal. Jumlah penduduk yang terus bertambah merupakan faktor utama disediakannya transportasi massal.
Saat ini jumlah penduduk Semarang sudah lebih dari 1 juta jiwa. Belum lagi ditambah penduduk nglajo dari wilayah penyangga (hinterland) yang masuk Kota Semarang.
''Angkutan massal harus ada seiring dengan perkembangan kota. Begitu pula dengan perencanaan pelayanan transportasi melalui pembagian zona-zona,'' kata Djoko, Senin (14/1).
Dia menjelaskan, bus angkutan massal itu nantinya dijalankan dengan konsep bus line. Berbeda dengan bus way di Jakarta yang menggunakan jalur khusus, bus line nantinya mengambil lajur jalan sebelah kiri. Kondisi jalan Semarang yang sempit tidak memungkinkan dibangun jalur khusus.
Selanjutnya, kata Djoko, bus dengan dilengkapi AC itu berhenti di halte-halte khusus yang disediakan. Tarifnya pun lebih murah karena ada subsidi pemerintah. Karenanya bus ini lebih bersifat layanan publik ketimbang berorientasi profit. Pembayaran menggunakan sistem tiket dan menghindari pembayaran langsung antara penumpang dan kondektur.
Awak bus mendapatkan gaji tetap, bukan sistem setoran. Rencananya, pengelolaan bus di bawah unit pelaksana teknis (UPT) Dishub selama 2 tahun. Kemudian pengelolaannya diserahkan Badan Layanan Umum (BLU), yang merupakan lembaga tersendiri.
''Operator bus nanti bekerja sama dengan pengusaha angkutan lama, sementara armadanya milik pemerintah.''
Rute-rute yang bisa dikembangkan untuk bus line ini antara lain Mangkang-Penggaron PP dan Banyumanik-Pelabuhan PP. Idealnya, Semarang dilayani bus ini hingga 6-8 koridor. Bus ini melayani jalur-jalur utama, yang ditopang dengan bus-bus milik pengusaha swasta yang berfungsi sebagai angkutan feeder.
Halte Khusus
Sementara itu, dalam seminar Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Balai Kota, Prof Dr Ir Soegiono Soetomo DEA, guru besar Pengembangan Wilayah dan Kota Undip mengatakan, angkutan massal masih sulit direalisasikan. Penyebabnya angkutan massal memerlukan subsidi besar. Sementara pengelola masih berpikiran mencari keuntungan bisnis.
''Transportasi masih bagian dari upaya mencari nafkah. Jadi angkutan massal ini tidak ada yang pernah mau mengelola,'' katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang Andi Agus Wandono, BRT yang tengah dipersiapkan Pemkot memang tidak menggunakan jalur khusus. Namun, bus-bus itu memerlukan halte yang dirancang khusus supaya tidak mengambil penumpang di sembarang tempat.
''Pintu bus memiliki ketinggian sekitar 70 centimeter. Naik turun penumpang hanya bisa dilayani di halte yang khusus dirancang untuk itu.''
(
moh anhar, achiar m permana/cn09 )
sumber :
http://www.suaramerdeka.com/Note >>> Mungkin ini proyek yg hampir sama dengan pelaksanaan Busway Trans Jakarta
gambar bus yg tampil di atas, bukan replika BRT yg akan digunakan di Semarang, tapi aku ambil dari site lain dari LN.